Rumah Keluarga Indonesia

Anak Kurang Konsentrasi & Daya Ingat; Bagaimana Mengatasinya? (1)

June 04
14:36 2013

 

boy with bookSeorang ibu mengatakan: ”Anakku sangat lamban sekali. Usianya baru 12 tahun. Ia tidak menguasai dengan cepat dan tidak bisa konsentrasi. Aku sudah berusaha dengan berbagai macam cara. Akan tetapi, ia maju selangkah lau berhenti di situ. Aku biarkan ia bermain. Dan apabila tiba waktu mengulang pelajaran ia hampir menangis. Tahun-tahun lalu, ia hanya berhasil pada satu nilai 66%. Apa yang harus aku lakukan? Jazakumullah.”

Dr. Samir Yunus menjelaskan bahwa nilai tidak terlalu penting seperti yang kita kira. Yang penting adalah Anda menyuntikkan kemauan dan keseriusan dalam mengerjakan sesuatu, tabah dan terikat dengan tugas apapun sampai ia bisa menyelesaikannya. Hal ini akan memberikan manfaat kepada sang anak di kehidupan sekolah dan masa depannya. Ia sudah menyelesaikan semua pelajaran-pelajaran di tahun-tahun terakhir bahwa keterlibatan kedua orang tua kepada anaknya memberikan pengaruh yang lebih besar bagi keberhasilannya di sekolah. Lalu kedua orangtua segera mencari guru atau tingkatan sekolah. Jika Anda ingin memperbaiki jenjang sekolahnya, hendaknya orang tua menyediakan waktu yang cukup setiap hari untuk memperhatikan kewajiban-kewajibannya. Beberapa kajian membuktikan bahwa orangtua yang memperhatikan anak-anak mereka dari segi keilmuwan dan pengajaran bisa membantu mereka meningkatkan persentasi konsentrasi yang mereka miliki dengan cara sebagai berikut.

Langkah pertama adalah mengetahui apa penyebab di balik lemahnya konsentrasi. Beberapa hal yang menyebabkan lemahnya konsentrasi anak dalam belajar adalah karakter kurikulum sekolah, pergaulan para guru dan orangtua murid -baik itu di sekolah, di rumah atau pada pelajaran-pelajaran khusus- metode pengajaran yang digunakan, tatacara menghafal yang digunakan orangtua ketika ingin membantu anak-anak. Pada umumnya, orang tua mendikte anak sehingga anak merasa kering dari rasa senang dan rangsangan-rangsangan. Orang tua juga seringkali didominasi oleh rasa khawatir yang berlebihan terhadap anak-anak akan masa depan sekolah mereka. Bisa jadi, murid adalah sebabnya. Akan tetapi, karena zuruf  (faktor) eksternal dari kemauannya seperti kesehatan, kejiwaan dan lain-lain.

Kesalahan banyak dilakukan oleh orangtua dan para pengajar ketika mereka mencoba mendikte anak-anak dan tidak memperhatikan kunci-kunci pengetahuan. Ada perbedaan antara ibu yang mendikte anak-anaknya secara text-book dan ibu yang hanya mengarahkan dan mengawasi anak-anaknya.

Dan itu dilakukan dengan mengevaluasi penyelesaian mereka atas pekerjaan rumah tanpa campur tangan ibunya. Kecuali apabila anaknya bertanya kepadanya tentang persoalan yang tidak ia ketahui. Kemudian setelah ia selesai dari pekerjaannya di satu mata pelajaran atau bisa menyelesaikan sebuah latihan atau pertanyaan, ibu melihat ke buku tulisnya, lalu membantunya memperbaiki kesalahannya. Ini hanya sekadar contoh tentang tatacara membantu anak mengulang pelajaran.

Masih banyak lagi cara-cara lain yang tidak bisa kita sebutkan di sini. Barangkali, kelemahan konsentrasi ini kembali pada zuruf kejiwaan dan hal-hal lainnya.

 

Untuk mengangkat tingkat prestasi anak dan mengatasi permasalahannya, kami nasihatkan dengan hal-hal berikut ini.

1. Usahakan selalu menjadi pendorong bagi anakmu untuk mengingat dan memperhatikan. Dorongan-dorongan itu ada dua jenis: internal, dan ini adalah yang terkuat, seperti misalnya kita menanamkan kepadanya cinta ilmu sebagai bentuk ibadah kepada Allah dan mentaati-Nya. Eksternal, seperti lompatan-lompatan, tabah dan berharap. Anda lebih mengetahui apa yang disukai anakmu. Sangat berguna lagi jika Anda mengingatkan kepadanya sosok-sosok sukses yang mereka sukai.

2. Bersandarlah dalam membantu anak laki-laki Anda dengan evaluasi, bukan dengan dikte, selalu dibarengi dorongan dan membangkitkan rasa percaya diri.

3. Latihlah anakmu memulai pelajarannya dengan tilawah Al-Qur’anwalaupun satu ayat atau surat al-Fatihah kemudian doa ma’tsur: “Ya Allah tidak ada kemudahan melainkan apa yang Engkau jadikan mudah. Dan Engkau yang menjadikan kesedihan jika Engkau kehendaki ia jadi mudah.”

4. Biasakanlah anak laki-lakimu menyiapkan dirinya untuk istizkar (mengingat pelajaran). Caranya dengan memilih waktu yang tepat yang tidak membuat letih, sempit, sedih dan gundah. Oleh karena itu, hendaknya ia membiasakan berusaha memecahkan berbagai permasalahan sebelum istizkar. Seperti misalnya, bersegera berdamai dengan orang yang membenci dirinya, berlindung kepada orang yang lebih tua yang bisa dapat dipercaya dari anggota keluarga atau kerabat, atau meskipun harus menggoreskan kesedihan-kesedihannya di sebuah kertas antara dirinya dan orang lain apabila tidak mendapatkan orang yang tidak mau membuka persoalannya. Dengan menuliskannya itu bisa menjadi pembebas dan pelega jiwa. Barangkali ia bisa mengistirahatkan jiwanya hanya sekadar dengan menyebarkan kesedihan-kesedihannya di atas kertas. Ia bisa merobek kertas tersebut setelah berhasil mewujudkan tujuannya, yakni kelapangan jiwa dan kesiapan untuk mengulang pelajaran.

5. Mengondisikan tempat untuk istizkar (mengingat pelajaran), dilakukan dengan memperbaiki tatanan ruang belajarnya. Penerangan berada di sebelah kirinya dan hendaknya jangan redup sehingga menyebabkan mudah tidur, mata letih, urat syaraf mengerut, menyebabkan rasa takut atau melemahkan konsentrasi. Jangan pula membuat mata silau, meletihkan dan mempengaruhi kejiwaan. Di antara bentuk penyiapan tempat juga misalnya mengatur buku-buku. Sebaiknya, tidak ada buku di atas meja murid selain buku-buku yang hendak dipelajarinya dengan menyiapkan peralatan muzakaroh (belajar) sebelum duduk. []

BERSAMBUNG

Share

About Author

adminrki

adminrki

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

Leave a Reply