Rumah Keluarga Indonesia

Menjaga Kepercayaan

October 03
20:28 2013

hadiah buku

Oleh: Ratna Mulyana, Aktivis Pendidik

Menanam kepercayaan kepada orang lain tak terlalu sulit. Apalagi bila ditunjang dengan penampilan yang baik, ditambah gaya bicara yang meyakinkan, serta ilmu yang banyak. Tapi, menjaga agar kepercayaan itu tidak hilang sirna adalah sesuatu yang sulit.

Nabi Muhammad saw. adalah suri tauladan yang sempurna. Pribadi yang amanah, tidak berkhianat dan terpercaya yang harus diikuti langkah hidupnya betapapun sulitnya. Kita kenang ucapan Beliau ketika berhadapan dengan penguasa dan indahnya dunia. “Seandainya rembulan diletakkan di tangan kiriku dan matahari di tangan kananku, tetap tidak akan bisa menghentikan langkah da’wah ini.”

Buah kepercayaan sangat indah di sisi Allah swt. Bersabarlah, bila sudah berikhtiar, kita mendapati manusia yang tertipu, lebih menghargai dan menghormati orang-orang yang tidak dapat dipercaya, namun pandai beretorika, pandai bersandiwara, pandai menggunakan dalil agama. Manusia seperti itu tertutup oleh hawa nafsunya terhadap dunia. Kepercayaan “semu” yang ditanam tentu tidak akan bertahan lama. Bila kepercayaan itu hilang, betapa sulit meraihnya kembali. Jadi jangan sekali-kali kita menyepelekan, bahkan melecehkan kepercayaan orang lain kepada kita.

Seorang anak harus memiliki kepercayaan terhadap orang tuanya. Orang tua juga harus memiliki rasa kepercayaan terhadap anaknya. Bila sebaliknya yang terjadi adalah awal kegagalan terhadap proses regenerasi yang Islami. Padahal beban generasi yang akan datang jauh lebih berat dari kehidupan kini yang sudah berat. Selanjutnya, seorang pemimpin harus memiliki kepercayaan kepada yang dipimpinnya. Para pengikut juga harus memiliki kepercayaan kepada pemimpinnya. Jika kepercayaan itu sudah pupus dan tidak ada lagi, maka yang terjadi hanya kehancuran seluruh sistem kehidupan yang dibangun oleh manusia.

Sebagai anggota masyarakat, kepercayaan membuat seseorang merasa nyaman tinggal di suatu tempat. Merasakan lapangnya jalan. Setiap langkah beriring senyum dan sapa dengan siapapun yang berjumpa. Namun, bila kepercayaan itu hilang, langkah terasa berat, jalan terasa sempit, mata tak leluasa memandang, hanya tertunduk dengan bibir membeku. Tanpa kata. Betapa sedihnya hidup ini.

Sebagai pedagang terlebih lagi. Modal utama adalah kejujuran yang melahirkan kepercayaan. Rasulullah saw. telah mencontohkan hanya pedagang yang jujur yang bisa mendapatkan keuntungan di dunia dan akhirat.Tidak tenggelam dalam kebathilan. Tidak tenggelam dalam hutang dan aneka ketidakjujuran keuangan, yang bisa menggiring ke dalam penjara dan akhirat.

Dalam menjalin ukhuwah, keberhasilan hanya bisa didapat bila rasa saling percaya itu tumbuh dan dirawat dengan baik. semua harus lahir secara alamiah. Tanpa rekayasa, tanpa paksaaan, dan tanpa kepura-puraan. Sebab sesuatu yang palsu dan tidak alami, tentu akan mudah pudar seiring berjalannya waktu. Ketika berinteraksi dengan mad’u (objek da’wah), berusahalah menjadi da’i/da’iyah yang layak dipercaya. Jangan menuntut orang lain untuk percaya, tapi tingkah laku kita justru membuat orang lain tidak percaya. Karena antara lisan, hati dan amal tidak sama. Itu akan membuat orang lain lebih tidak percaya. Ketahuilah ciri-ciri orang munafik adalah tidak sejalannya antara lisan, hati dan amal. Mereka ini jenis manusia yang paling jelek. Allah swt. akan menempatkan manusia jenis ini, tempatnya di neraka yang paling jelek (Darqil aspal minannar).

Dalam bernegara, seorang politisi, presiden, wakil presiden yang dipilih rakyatnya, harus menjaga dan merawat kepercayaan yang diperolehnya. Agar kepercayaan itu bisa dirasakan sebagai rahmat, bukan dirasakan oleh rakyat sebagai azab.

Namun, dapatkah rakyat percaya pada politisi dan pemimpin yang dalam sekejap memiskinkan puluhan juta rakyat yang sudah hidup di bawah garis kemiskinan? Sekalipun dihadapi dengan banyaknya analisa, data, retorika, dan informasi. Dapatkah rakyat mempertahankan kepercayaan yang sudah diberikan kepada pemimpin itu? Jawabannya ada pada nurani kita yang tak pernah berdusta. Jangan menuduh ketidakpercayaan, bahwa rezeki adalah Allah swt. yang mengatur. Tidak adil. Bahwa Allah swt. memberi rezeki dengan cukup kepada seluruh makhluk-Nya. Hanya manusia ada yang serakah dan ada yang lemah, sehingga semua menjadi malapetaka. []

 

Share

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

Leave a Reply